Upaya Meningkatkan Kesetiaan Terhadap Brand Dengan Mendayagunakan Modal Sosial

Selasa, 15 Februari 2011

Upaya Meningkatkan Kesetiaan Terhadap Brand
Dengan Mendayagunakan Modal Sosial

http://www.markplusinstitute.com/



Whay Write This..?


Awal mengapa penulis mau repot-repot menulis ini padahal bukan bidangnya sebagai anak FISIP sejati ialah bahwa terdapat fakta besar. Fakta itu ialah kita hidup di dunia ini tidak lepas dari brand. Jadi dapat dikatakan bahwa hidup di dalam globalisasi ialah hidup dengan brand. Bahkan, seseorang bisa saja mengkultuskan sebuah brand layaknya menyembah Tuhan.
Menjadi pertanyaan utama apakah brand itu buruk atau justru positif. Banyak sudut pandang yang mengatakan bahwa brand itu menguras kantong masyarakat. Mungkin saja hal itu benar tetapi bisa saja salah tergantung berbagai macam perspektif melihat hal tersebut. Akan tetapi, penulis mengatakan bahwa brand tidak selalu buruk jika dalam inovasinya mulai inovasi mainsheet, inovasi proses, inovasi produk dan inovasi feedback melibatkan dan mendayagunakan kekuatan yang di masyarakat yang dapat disebut sebagai modal sosial. Jadi “berbisnislah dengan mereka (Modal Sosial) dan jangan menjadikan mereka sebagai hamba brand.”
Oleh karena itu, tulisan ini lebih pada meningkatkan kesetiaan terhadap brand dengan mendayagunakan kekuatan masyarakat yaitu modal sosial dan bukan hanya terbatas membatasi kekuatan mereka hanya sekedar kumpulan individu yang konsumtif.

My Perspective : “Brand Not only Business But also Social”

Jika berbicara mengenai kesetiaan terhadap brand, penulis mengacu konsep Aaker bahwa brand memiliki 5 atribut yaitu brand loyalty, brand awareness, perceived quality, brand association dan other proprietary brand (Aaker.1991). Kelima atribut ini dapat menentukan seseorang menjadi committed buyer. Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana kelima atribut tersebut dapat bekerja dengan efektif dan salah satunya ialah dengan mendayagunakan modal sosial.
Jika muncul pertanyaan ialah mengapa modal sosial. Hal ini dikarenakan penulis memiliki perspektif bahwa “brand not only business but also social.” Jadi aspek sosial perlu diperhatikan dalam suatu brand termasuk termasuk juga dalam membangun komitmen terhadap suatu brand. Hal ini dikarenakan yang menjadi konsumen ialah tidak hanya individu tetapi juga masyarakat yang selalu merespon berbagai hal termasuk mencitrakan sebuah brand. Oleh karena itu,
“merangkul dan bukan meninggalkan mereka.”
Setiap dari kumpulan individu yang disebut modal sosial pastinya memiliki trust & norm atau dapat dikatakan sebagai modal sosial. Modal Sosial menurut Putnam (Vol. 58 No. 6 2006 : 503),“social capital refers to connections among individuals – social networks and the norms of reciprocity and trustworthiness that arise from them” . Dari definisi tersebut maka terdapat dua aspek yang penting dalam modal sosial yaitu trust & norm. Jika dalam konteks brand, bagaimana trust & norm pada kumpulan individu ini didayagunakan tidak terbatas sebagai konsumen tetapi sebagai modal sosial dalam membentuk citra positif akan suatu brand.
Trust & norm pada modal sosial bukan sesuatu yang bersifat main-main tetapi sesuatu yang mengikat bahkan ada hukuman bagi pelanggarnya. Oleh karena itu, trust & norm yang bersifat kolektif ini diarahkan untuk membangun komitmen kolektif menggunakan suatu brand tetapi tetap memperhatikan dinamika sosial dari brand tersebut.
Modal sosial dapat juga dikatakan sebagai ikatan yang tidak terlihat. Ikatan tersebut dapat muncul di komunitas baik itu komunitas yang bersifat resmi (klub, forum, jaringan dan lainnya) ataupun komunitas yang tidak resmi. Untuk konteks brand maka pendayagunaan modal sosial di komunitas dibagi dua. Pertama ialah komunitas dari suatu produk seperti klub Mac Club Indonesia, Honda Jazz Club Indonesia dan lainnya. Kedua ialah komunitas bukan dari suatu produk sehingga lebih general seperti Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia.

Pendayagunaan Modal Sosial Melalui Komunitas Suatu Produk
Pendayagunaan modal sosial melalui komunitas suatu produk ialah memperkuat kesetiaan dan bukan membangun kesetiaan. Dengan kata lain, bagaimana pemilik brand dapat menjalin relasi dengan komunitas sebuah produk dan bukan mengacuhkannya. Dikarenakan mereka menjadi anggota komunitas suatu produk tentunya karena mereka menyukai produk tersebut atau minimal menggunakan produk tersebut. Honda Jazz Club Indonesia tentunya berisi pengguna mobil Honda Jazz. Dalam konteks ini bagaimana agar anggota klub tersebut tetap mempertahankan kesetiaan mereka untuk menggunakan mobil Honda Jazz atau variasinya di masa akan datang, bahkan anggota klub tersebut mempengaruhi pengguna mobil Honda Jazz lainnya untuk melakukan hal yang sama.
Menjadi pertanyaan utama ialah sejauh mana pemilik brand dalam hal ini perusahaan dapat mendayagunakan modal sosial pada komunitas/ klub brand mereka dalam rangka mensosialisasikan dan menginternalisasi brand mereka Dengan mendayagunakan modal sosial yang terdapat pada komunitas brand itu sendiri ialah melibatkan mereka sebagai agen sosialisasi maka dapat menyentuh aspek kualitas dan kuantitas.
Aspek kualitas ialah nilai-nilai dari brand serta informasi-informasi mengenai brand tersebut akan lebih mudah diterima dan tercipta internalisasi pada diri pengguna brand tersebut jika memanfaatkan komunitas tersebut baik itu komunitasnya secara organisasi maupun individu-individu yang notabane anggota komunitas itu sendiri. Dengan begitu, dapat tercipta tidak hanya transfer information layaknya iklan tetapi juga transfer knowledge & transfer experience.
Misalnya, komunitas berupa Honda Jazz Club Indonesia mensosialisasikan keluaran brand terbaru misal Honda New Jazz. Para anggota yang tadinya telah percaya pada Honda Jazz lama mereka akan tertarik untuk membeli Honda New Jazz dikarenakan yang memberikan informasi ialah pihak yang benar sehingga kualitas dari informasi, pengetahuan dan pengalaman dapat dipercaya. Dengan kata lain, trust pada modal sosial berupa Honda Jazz Club Indonesia dapat dimanfaatkan.
Dari aspek kuantitas, maka dengan adanya trust & norm pada komunitas brand itu sendiri dapat mendorong akan pertambahan penggunaan terhadap brand itu. Jika ada varian terbaru dari brand itu maka pengguna brand tersebut akan cenderung membelinya jika disosialisasikan oleh komunitas produk itu sendiri. Misalnya, Mac Club Indonesia mensosialisasikan mengenai Ipad terbaru maka pengguna Ipad sebelumnya akan cenderung membeli brand itu padahal masih menggunakan brand yang lama.

Pendayagunaan Modal Sosial Melalui Komunitas Bukan dari Suatu Produk
Pendayagunaan modal sosial melalui komunitas bukan dari suatu produk berarti ialah mendayagunakan komunitas dengan berbagai bentuk (klub, forum dan lainnya) di masyarakat. Komunitas ini berbeda fungsinya dengan komunitas suatu produk dikarenakan lebih pada membangun kesetiaan.
Jika pada komunitas suatu produk didayagunakan modal sosialnya untuk menjadi agen sosialisasi maka komunitas bukan dari suatu produk atau komunitas yang ada di masyarakat ini dijadikan mitra sosialisasi. Untuk pertanyaan siapa yang diajak untuk bermitra sosialisasi ialah dapat mempertimbangkan atribut brand dari perusahaan tersebut termasuk juga brand identity dan brand association. Misalnya, jika brand association yang muncul di masyarakat ialah susu untuk pertumbuhan anak maka dapat bermitra Ikatan Dokter Anak Indonesia dalam mensosialisasikan meminum susu untuk pertumbuhan dan brand susu A dapat membantu pertumbuhan anak.
Mekanisme dari mitra sosialisasi berbeda dengan agen sosialisasi karena harus berbagi nilai yang dibawa. Mulai dari nilai komunitas berupa forum, ikatan maupun klub tersebut dengan nilai brand seperti pada contoh di atas bahwa terdapat nilai susu untuk pertumbuhan anak yang dibawa Ikatan Dokter Anak Indonesia dan juga ada nilai brand yang dibawa.
Jika dikaitkan dengan mitra sosialisasi dalam pendayagunaan modal sosial maka diharapkan terdapat transfer knowledge & transfer experience antara masing-masing anggota mengenai nilai dari komunitas tersebut bersama dengan brand tersebut. Misal susu untuk pertumbuhan dengan brand A. Dengan begitu, anggota dari komunitas tersebut menjadi pengguna brand tersebut.
Transfer knowledge & transfer experience tidak hanya antara anggoa komunitas tersebut tetapi juga diharapkan dengan masyarakat baik itu dilaksanakan oleh anggota komunitas tersebut secara individual maupun secara organisasi. Hal ini dikarenakan komunitas mensosialisasikan mengenai nilai-nilai mereka ke masyarakat dan hal ini bisa bersamaan dengan brand. Misalnya, nilai-nilai susu untuk pertumbuhan disosialisasikan bersamaan dengan brand susu A.

Penutup
Membuka kesetiaan terhadap brand dan menjaga kesetiaan terhadap brand ialah kedua hal yang terkadang sulit untuk diwujudkan jika tidak merangkul mereka atau membiarkan mereka hanya menjadi konsumen. Pendayagunaan modal sosial melalui komunitas dari suatu produk mencoba menjaga konsumen agar tetap setia menggunakan brand dan melalukan hal yang sama di masa akan datang. Sementara itu, pendayagunaan modal sosial melalui komunitas di masyarakat yang bukan komunitas dari suatu produk ialah mencoba membuka kesetiaan konsumen agar dapat menggunakan brand tersebut. Dengan pendayagunaan modal sosial diharapkan brand tidak hanya nenjadi kekuasaan bisnis yang memenuhi pasar tetapi kekuatan sosial yang memenuhi hati masyarakat.

Sumber Pustaka :
Aaker, David A,1991. Managing Brand Equity : Capitalizing on the Value of a Brand Name. New York : The Free Press.1991

Horton, Sarah. Social capital, government policy and public value: implications for archive service delivery. Aslib Proceedings: New Information Perspectives Vol. 58 No. 6 (2006) : 503

Segenggam kata indah

Sabtu, 13 Februari 2010

Segenggam Kata Indah
Karya Pujangga Gombal

Segenggam kata indah ini…
Pantaskan hanya menjadi milikmu seorang…
Asal kamu tahu…
Dengan segenggam kata indah
Dunia seakan selalu indah tanpa cacat…
Duniaku…
Dunia sahabatmu..
Dunia keluargamu…
Memang benar adanya jika dunia itu rakus…
Rakus memperebutkan segenggam kata indah milikmu..
Walaupun tak ada gunanya diperebutkan…
Jika dilihat dari meteodologi super ilmiah…
Kata indah itu hanya segenggam…
Tak sebesar dengan luasnya lautannya rasionalitas manusia…
Tak sepanjang jumlah kata sifat jika diurutkan satu-persatu…
Tak sebanding dengan banyaknya kata indah di muka bumi..
Memang benar adanya…
Kata indah itu hanya segenggam..
Tapi dengan segenggam itu..
Ketiga dunia telah kehilangan rasionalitasnya…
Apa hebatnya..????
Apa kekuatanya ???
Apakah dengan ini keajaiban dunia bertambah delapan..???
Aku beserta duniaku
Mencoba memahami kata indah yang hanya segenggam ini
Walaupun, harus terjebak dalam penjara indahnya kata ini
Dan pada akhirnya aku pun terjebak
Ternyata alangkah bodohnya diriku
Karena segenggam kata indah itu tak perlu meteodologi ilmiah
Sangat sederhana
Lebih sederhana dari hitungan pertambahan
Lebih sederhana dari ejaan A-I-U-E-O
Ternyata segenggam kata indah itu
Hanya terdiri untaian dua kata…
Cukup dua kata indahnya pesonamu
Cukup dua kata indahnya pekertimu
Cukup dua kata indahya sapamu
Cukup dua kata indahnya nuranimu
Tak dapat kubayangkan..
Bagaimana keluargamu mendapatkan karunia besar
Dengan adanya segenggam kata indah itu
Jika ditanyakan bagimana indahnya keluargamu
Ketika mendapatkan segenggam kata indah itu
aku tak bisa menjawab
aku tak tahu persis
Tapi telah kupastikan
Banyak tetes air mata bahagia di sana
Yang mewarnai segenggam kata indah itu
Aku juga masih belum bisa menjawab pertanyaan itu
Tapi telah kupastikan terdapat ukiran suka cita
Di hati sahabatmu
Dengan adanya segenggam kata indah itu
Hingga detik ini aku masih belum bisa menjawab
Tapi telah ku pastikan
Aku telah hanyut
Aku hanyut karena pekertimu yang lapang
Aku tak bisa bernafas karena dalamnya nuranimu
Aku makin tenggelam karena pesonamu
Hingga sekarang aku masih ingat
Akan timbunan kesalahanku padamu
Dalam bentuk petikan kata buruk di buku angkatanmu
Kesalahan yang menunjukkan sombongnya sebagai senior
Tapi dengan segenggam kata indah itu
kesombongan itu pun lenyap
Akupun dibuat melayang
Dengan pesona indahmu
Dan melawan hukum gravitasi kewajaran
Karena dengan segenggam kata indah itu
Membentuk ketidakwajaran dalam diriku
Dengan adanya rasa humorismu
Dalam segenggam kata indah itu
Telah mengusir hidupku yang terasa baku
Segenggam kata indah itu..
Teralu indah..
Paling indah..
Hingga aku tak mampu menjabarkannya
Hingga aku tak mampu menuliskannya lagi
Tapi telah kupastikan
Duniaku..
Dunia keluargamu
Dunia sahabatmu
Telah menjadi semakin indah
Dengan adanya segenggam kata indah milikmu

KOmik Obat Sesak Nafas Chapter 2

Jumat, 28 Agustus 2009

Photobucket

KOmik Obat Sesak Nafas Chapter 2

Photobucket

flag..flag

Kamis, 13 Agustus 2009

free counters

Komik Obat Sesak Nafas chapter 1 ( pencemaran di teluk Jakarta)

Kamis, 29 Januari 2009

Photobucket

Renungan hati seorang Iblis (kala Palestina diserang)

Rabu, 07 Januari 2009



palestina diserang..................

berita2 itu sudah terdengar dmana..dmana....

bahkan tak sengaja pun qta denger berita2 itu...

di bis...bahkan bengkel motor dket rmah gw....


pertanyaan yg muncul dalam hati seorang iblis....

" kenapa ini terjadi dan terus knapa sebagai seorang iblis tidak dikonfirmasi dahulu...?"



jawabannya ialah.....

mereka tdak mengasih taw karena mereka bukan iblis seperti seutuhnya saya....mereka hanya manusia, mereka hanya seonggok otak dan emosi kekuasaan yg pasti terdapat pada diri seorang iblis seperti saya.........

jadi bisa dikatakan mereka hanya menjalankan syariat iblis yg terpapar dlm buku "jalan menuju neraka" yg hukumnya fardu ain,yaitu: hancurkan.....kuasai......

tapi yg menjadi pertanyaan ialah apakah mereka akan melanggar buku "jalan menuju neraka", dgan melanggar pantangan dan yg diharamkan dalam buku ini, sperti : rasa mengasihi...........rasa persudaraan........

ketika dikabarkan oleh CNN bahwa mereka sudah melakukan gencatan senjata selama 3 jam, terlintas bahwa mereka melakukan apa yg diharamkan dalam buku "jalan menuju neraka" pada pasal hancurkan & kuasai......

Akan tetapi mereka kembali menjalankan syariat dalam buku "jalan menuju neraka" dengan menyerang palestine kembali setelah 3 jam berlalu..........


Pertanyaan yg muncul sampai kapan..........?

apakah selaku iblis, saya harus memanggil teman saya yaitu arwah Theodore Hertz agar membatalkan gagasan zionismenya dan berbicara di depan pers internasional....

ataukah

saya memanggil arwah teman saya, aldof hitler agar bisa melakukan pemusnahan terhadap kaum yahudi.......................


MUngkin selaku iblis saya hanya bisa melakukan itu.......

Akan tetapi, selaku iblis saya ingin kembali dan renkeirnasi menjadi manusia apabila itu diperkenankan...

dan mengajak manusia yg menjalankan syariat dari buku "jalan menuju neraka", agar membakar buku tersebut dan membersihkan diri dari paham-paham iblis tersebut. Dan tak lupa, untuk menyalankan api nurani untuk menghilangkan segala bentuk kegelapan ................







hanya itu yg bisa dilakukan......................
hanya itu kaahh yg bisa dilakukan..................... ?






"tapi pada kenyataannya saya masih seorang iblis yg megharapkan menjadi manusia."